Share it

Senin, 25 Oktober 2010

TATA UPACARA SEKOLAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian
Upacara bendera di sekolah adalah kegiatan pengibaran/penurunan bendera kebangsaan Republik Indonesia Sang Merah Putih, yang dilaksanakan pada saat-saat tertentu atau saat-saat yang telah ditentukan, dihadiri oleh siswa, aparat sekolah, dan diselenggarakan secara tertib dan khidmat di sekolah.

B. Landasan Hukum
1. Undang-Undang No.2 tahun 1989, tentang sistem pendidikan nasional.
2. Peraturan Pemerintah No.28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar dan No.29 Tahun 1990, tentang Pendidikan Menengah.
3. PP. No. 40 Tahun 1958, tentang Bendera Kebangsaan.
4. PP. No.44 Tahun 1958, tentang lagu kebangsaan Indonesia Raya.
5. PP. No.66 Tahun 1951, tentang Lambang Negara.
6. Instruksi Presiden No.14 tahun 1981, tentang penyelenggaraan Pengibaran Bendera Merah Putih.
7. Beberapa Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Direktur Pembinaan Kesiswaan.

BAB II
MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN

A. Maksud
Maksud dilaksanakannya upacara bendera di sekolah adalah untuk mengusahakan dan memantapkan pencapaian tujuan pendidikan nasional di sekolah dalam pemantapan sekolah sebagai wiyatamandala.

B. Tujuan
1. Membiasakan bersikap tertib dan disiplin.
2. Membiasakan berpenampilan rapi.
3. Meningkatkan kemampuan memimpin.
4. Membiasakan kesediaan dipimpin.
5. Membina kekompakan dan kerjasama.
6. Mempertebal rasa semangat kebangsaan.
C. Sasaran
Sasaran petunjuk pelaksanaan upacara bendera ini diperuntukkan bagi:
1. Siswa
2. Guru dan aparat sekolah

BAB III
UNSUR PELAKSANA

A. Pejabat Upacara

1. Pembina Upacara
Adalah pejabat upacara yang menerima penghormatan tertinggi dari peserta upacara.
Tugas pokoknya adalah:
a. Mensahkan rencana acara upacara
b. Menerima laporan pengatur upacara sebelum upacara dimulai
c. Menerima penghormatan dari peserta upacara
d. Menerima laporan pemimpin upacara
e. Memimpin mengheningkan cipta
f. Membacakan teks Pancasila untuk diikuti oleh peserta upacara
g. Menyampaikan pesan-pesan/amanat
h. Penanggung jawab terakhir pelaksanaan upacara
Pembina Upacara adalah Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, atau guru yang ditunjuk.

2. Pemimpin Upacara
Adalah pejabat yang bertugas memimpin upacara.
Tugas pokoknya adalah:
a. Menerima penghormatan dari pemimpin peserta upacara
b. Memimpin penghormatan dari peserta kepada pembina upacara.
c. Menyiapkan dan mengistirahatkan peserta upacara
d. Menyampaikan laporan kepada pembina upacara
e. Bertanggung jawab kepada pembina upacara
f. Membubarkan peserta upacara, bila upacara selesai
Pemimpin Upacara adalah siswa yang benar-benar mampu dan ditunjuk secara bergilir.

3. Pengatur Upacara
Adalah pejabat yang bertugas menyiapkan rencana acara upacara secara tertulis serta segala sesuatu yang bertalian dengan upacara.
Tugas pokoknya adalah:
a. Mengajukan rencana acara upacara kepada pembina upacara untuk memperoleh pengesahan.
b. Menentukan/menunjuk petugas-petugas upacara
c. Menyiapkan/memeriksa tempat dan perlengkapan upacara
d. Melapor atau memberikan informasi kepada pembina upacara
e. Memeriksa, mengatur serta mengendalikan jalannya upacara
f. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada pembina upacara
Pengatur upacara adalah siswa di bawah bimbingan guru pembina.

4. Pembawa Acara
Adalah pejabat yang membacakan urutan tata upacara.
Tugas pokoknya adalah:
a. Membaca acara upacara sesuai urutan acara pada saat yang telah ditentukan.
b. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada pengatur upacara.
Pembawa acara adalah siswa di bawah bimbingan guru/pembina.

B. Petugas Upacara

1. Pembawa Naskah Pancasila, bertugas:
a. Membawa naskah Pancasila.
b. Menyerahkan Naskah Pancasila kepada Pembina Upacara dan menerima kembali naskah tersebut pada saat yang telah ditentukan.
Pembawa Naskah Pancasila adalah siswa yang ditunjuk bergilir.

2. Pembaca Teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, bertugas:
Membawa serta membaca teks tersebut pada saat dan tempat yang telah ditentukan.
Pembaca teks adalah siswa yang ditunjuk secara bergilir.

3. Pembaca do`a, bertugas:
Membaca do`a pada saat dan tempat yang telah ditentukan.
Pembaca do`a adalah siswa yang ditunjuk secara bergilir.

4. Pemimpin Lagu/Dirigen, bertugas:
Memimpin kelompok paduan suara menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hening Cipta dan salah satu lagu wajib nasional pada saat dan tempat yang telah ditentukan.
Pemimpin lagu/dirigen adalah siswa yang ditunjuk secara bergilir.

5. Kelompok Pengibar/Penurun bendera, bertugas:
a. Menyiapkan bendera
b. Mengibarkan atau menurunkan bendera serta menyimpannya ke tempat semula.
Kelompok pengibar/penurun adalah siswa yang ditunjuk secara bergilir.

6. Kelompok Pembawa Lagu/Paduan Suara, bertugas:
Menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hening Cipta dan salah satu lagu wajib nasional pada saat yang telah ditentukan.

C. Peserta
Adalah peserta yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan upacara. Peserta upacara terdiri dari siswa, Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru dan Staf tata usaha.

BAB IV
FORMASI

A. Bentuk Barisan
Untuk melaksanakan upacara bendera dipergunakan bentuk-bentuk dan formasi barisan sebagai berikut:
1. Bentuk Segaris
Bentuk segaris ialah suatu bentuk barisan yang disusun dalam satu baris dan menghadap ke pusat upacara.
2. Bentuk U atau Angkare
Bentuk U atau angkare adalah suatu bentuk barisan yang disusun dan berbentuk huruf U dan menhadap ke pusat upacara.

Dari kedua bentuk barisan tersebut dapat dipergunakan formasi-formasi barisan sebagai berikut:
1. Formasi saf bersaf
2. Formasi saf berbanjar
3. Formasi banjar bersaf
4. Formasi banjar berbanjar
Dalam pelaksanaan bentuk dan formasi barisan tersebut disesuaikan dengan keadaan sekolah dan lapangan upacara yang tersedia di masing-masing sekolah.

B. Susunan Barisan
Pada dasarnya susunan barisan pada upacara bendera ditentukan dari kiri ke kanan dilihat dari posisi pembina upacara saat berhadapan peserta upacara, sehingga penempatan dalam susunan tersebut dimulai dengan kelompok pembawa lagu, barisan kelas III, barisan kelas II, barisan kelas I dan kelompok tata usaha. Sedangkan kelompok guru ditempatkan sedemikian rupa, agar berada di luar jangkauan `komando` pemimpin upacara.

BAB V
KELENGKAPAN

A. Sarana
1. Bendera
Ukuran bendera kebangsaan untuk upacara selalu dengan perbandingan lebar dan panjang = 2 : 3, dengan ukuran terkecil 1 m x 1,5 m dan terbesar 2 m x 3 m.

2. Tiang bendera
Tiang bendera hendaknya dibuat dari bahan yang baik (tidak mudah lapuk) dan dapat berdiri tegak (tidak condong dan lengkung) serta kokoh.

3. Tali bendera
Tali bendera warna putih, bahan yang terbaik adalah tali layar, jangan menggunakan tali plastik.

4. Naskah-naskah
Bentuk naskah dibuat sedemikian rupa sehingga mudah untuk dibaca oleh petugas upacara. Naskah tersebut adalah naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan naskah Pancasila. Pada hari besar nasional dapat ditambah , misalnya naskah Proklamasi, naskah Sumpah pemuda dan sebagainya.

B. Pakaian
Pakaian yang dikenakan adalah seragam sekolah lengkap dengan topi (sesuai dengan Kep. Dirjen Dikdasmen No.100/C/Kep/D/1991).

BAB VI
PELAKSANAAN
A. Upacara Pengibaran Bendera

1. Susunan Acara
Susunan acara pada pengibaran bendera terdiri dari:
a. Acara persiapan
b. Acara pendahuluan
c. Acara pokok
d. Acara penutup
e. Acara tambahan

2. Teknis Pelaksanaan
a. Acara persiapan
Dimulai dari mempersiapkan kelengkapan upacara sampai dengan pengambilalihan pimpinan upacara oleh Pemimpin Upacara.

1) Persiapan Upacara
Dilakukan di bawah pimpinan para ketua kelas/barisan dan petugas upacara lainnya, masing-masing menempati tempatnya sesuai dengan susunan barisan.

2) Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara
Para ketua kelas/barisan menyiapkan kelas/barisan masing-masing. Pemimpin upacara mengambil tempat yang telah ditentukan.

3) Penghormatan
Aba-aba petunjuk, peringatan dan pelaksanaan dipimpin oleh ketua kelas tertinggi sebagai berikut: “Kepada Pemimpin Upacara – hormat – gerak”. Setelah pemimpin upacara membalas penghormatan, ketua kelas tertinggi memberikan aba-aba: “Tegak – gerak”.

4) Laporan
Para ketua kelas ditambah pemimpin lagu maju di depan pemimpin upacara sambil meluruskan dalam formasi segaris, tanpa diawali dan diakhiri dengan penghormatan. Tiap-tiap ketua kelas ditambah pemimpin lagu melaporkan persiapan pasukannya sebagai berikut: “Lapor, (Sebutkan nama kelas), siap”. Ketua kelas selanjutnya cukup mengucapkan: “(Sebutkan nama kelas), siap”. Pada saat giliran pemimpin lagu memberikan laporan: “Kelompok paduan suara, siap, laporan selesai”. Setelah pemimpin upacara memerintahkan: “Laporan Saya terima, kembali ke tempat”, kemudian para ketua kelas dan pemimpin lagu balik kanan dan kembali ke tempat masing-masing. Pemimpin upacara mengambilalih pimpinan, dan mengistirahatkan seluruh peserta upacara: “Untuk perhatian – istirahat di tempat – gerak”. Setelah seluruh peserta upacara mengambil sikap istirahat pemimpin upacara balik kanan, kemudian mengambil sikap istirahat.

b. Acara pendahuluan
Pengatur Upacara melapor tentang kesiapan upacara kepada Pembina Upacara dengan diawali dan diakhiri dengan penghormatan: “Lapor, Upacara Bendera siap dimulai, laporan selesai”. Laporan pelaksanaan dilakukan sesaat sebelum Pembina Upacara ke lapangan upacara.

c. Acara pokok
Sebelum acara pokok dimulai, pembawa acara terlebih dahulu memberi pengantar sebagai berikut: “Upacara Pengibaran Bendera, (sebutkan hari dan tanggal pelaksanaan), segera dimulai”.

1) Pembina Upacara memasuki lapangan upacara
Pembawa Acara: “Pembina Upacara memasuki lapangan upacara” disambut langsung oleh Pemimpin Upacara dengan mengambil sikap sempurna kemudian menyiapkan barisan tanpa balik kanan: “Siap – gerak”. Pengatur Upacara mengiringi Pembina Upacara sampai ke lapangan upacara.

2) Penghormatan Umum
Pembawa Acara: “Penghormatan umum kepada Pembina Upacara”. Pemimpin Upacara memimpin penghormatan: “Kepada Pembina Upacara – hormat – gerak”. Setelah Pembina Upacara membalas penghormatan, Pemimpin Upacara memberikan aba-aba: “Tegak – gerak”.

3) Laporan Pemimpin Upacara
Pembawa Acara: “Laporan Pemimpin Upacara”. Pemimpin Upacara maju dengan langkah biasa selanjutnya menyampaikan laporan: “Lapor, Upacara Bendera siap dimulai”. Pembina Upacara memerintahkan: “Lanjutkan”. Pemimpin Upacara menirukan: “Lanjutkan”, kemudian balik kanan dan kembali ke tempat semula dengan langkah biasa.

4) Pengibaran Sang Merah Putih
Pembawa Acara: “Pengibaran Sang Merah Putih, diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya”. Sebelum pengibaran bendera, Pembina Upacara menghadap penuh ke tiang bendera.

5) Mengheningkan Cipta
Pembawa Acara: “Mengheningkan Cipta dipimpin oleh Pembina Upacara”. Pembina Upacara mengucapkan: “Mengheningkan cipta, mulai”. Seluruh peserta upacara melaksanakan hening cipta yang diiringi oleh kelompok paduan suara.

6) Pembacaan Teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
Pembawa Acara: “Pembacaan Teks Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945”. Petugas pembaca teks maju 2-3 langkah selanjutnya membaca Teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Setelah selesai, balik kanan dan kembali ke tempat semula.

7) Pembacaan Teks Pancasila
Pembawa Acara: “Pembacaan Teks Pancasila”. Pembawa teks menyerahkan Teks Pancsila kepada Pembina Upacara, kemudian dibacakan oleh Pembina Upacara diikuti seluruh peserta upacara.

8) Amanat Pembina Upacara
Pembawa Acara: “Amanat Pembina Upacara”. Barisan diistirahatkan dipimpin oleh Pemimpin Upacara: “Untuk perhatian – istirahat ditempat – gerak”. Setelah selesai, Pemimpin Upacara langsung menyiapkan barisan: “Siap – gerak”.

9) Menyanyikan salah satu Lagu Wajib Nasional
Pembawa Acara: “Menyanyikan salah satu Lagu Wajib Nasional, (sebutkan salah satu lagu)”.Pemimpin lagu maju ke depan kelompok paduan suara dan memimpin lagu dengan khidmat.

10) Pembacaan Do’a
Pembawa Acara: “Pembacaan do’a”. Pelaksanaannya sama dengan pembaca teks Undang-Undang Dasar 1945.

11) Laporan Pemimpin Upacara
Pembawa Acara: “Laporan Pemimpin Upacara bahwa upacara telah selesai”. Pemimpin Upacara maju dengan langkah biasa dan menyampaikan laporan: “Upacara telah dilaksanakan, laporan selesai”. Pembina upacara mengucapkan: “Bubarkan”, dan Pemimpin Upacara mengucapkan: “Bubarkan”, kemudian balik kanan dan kembali ke tempat semula.

12) Penghormatan Umum
Pembawa Acara: “Penghormatan umum kepada Pembina Upacara”. Pemimpin Upacara memimpin penghormatan dengan aba-aba: “Kepada Pembina Upacara – hormat – gerak”, setelah dibalas kemudian dilanjutkan: “Tegak – gerak”.

13) Pembina Upacara meninggalkan lapangan upacara
Pembawa Acara: “Pembina Upacara meninggalkan lapangan upacara”. Pembina Upacara balik kanan dan meninggalkan lapangan upacara. Selanjutnya Pemimpin Upacara balik kanan menghadap ke peserta upacara.

14) Penghormatan kepada Pemimpin Upacara
Pembawa Acara: “Penghormatan kepada Pemimpin Upacara”. Pemimpin barisan paling kanan memimpin penghormatan dengan memberikan aba-aba: “Kepada Pemimpin Upacara – hormat – gerak”. Setelah Pemimpin Upacara membalas penghormatan, kemudian dilanjutkan dengan aba-aba: “Tegak – gerak”.

15) Upacara selesai
Pembawa Acara: “Upacara selesai, barisan dibubarkan”. Pemimpin Upacara memberikan aba-aba: “Bubarkan”, selanjutnya balik kanan meninggalkan lapangan upacara. Masing-masing pemimpin barisan membubarkan barisannya dengan aba-aba: “Bubar barisan – jalan”. Selanjutnya barisan memberikan hormat dan dibalas oleh Pemimpin Barisan. Setelah dibalas, barisan mengambil sikap sempurna dan balik kanan untuk istirahat.

d. Acara penutup
Pengatur Upacara melapor sesaat sesudah Pembina Upacara meninggalkan lapangan upacara, dengan diawali dan diakhiri dengan penghormatan. Bunyi laporan sebagai berikut: “Lapor, Upacara Bendera telah dilaksanakan, laporan selesai”.

e. Acara tambahan
Acara ini dapat di selenggarakan setelah acara pokok selesai. Acara ini bersifat pertunjukan keterampilan, pengumuman-pengumuman seperti perolehan piala, pengumuman dari OSIS dan lain-lain.

B. Upacara Penurunan Bendera
1. Susunan Acara
Susunan acara pada penurunan bendera terdiri dari:
a. Acara persiapan
b. Acara pendahuluan
c. Acara pokok
d. Acara penutup
e. Acara tambahan

2. Teknis Pelaksanaan
Pada prinsipnya, teknis pelaksanaan Upacara Penurunan Bendera sama dengan teknis pelaksanaan Upacara Pengibaran Bendera. Perbedaannya terletak pada urutan acara pokoknya sebagai berikut:
1) Pembina Upacara memasuki lapangan upacara
2) Penghormatan umum
3) Laporan Pemimpin Upacara
4) Mengheningkan cipta
5) Pembacaan Teks Pembukaan UUD 1945
6) Pembacaan Teks Pancasila
7) Amanat Pembina Upacara
8) Menyanyikan salah satu Lagu Wajib Nasional
9) Pembacaan do’a
10) Penurunan Bendera Sang Merah Putih
11) Laporan Pemimpin Upacara
12) Penghormatan umum
13) Pembina Upacara meninggalkan lapangan upacara
14) Penghormatan kepada Pemimpin Upacara
15) Upacara selesai

C. Gangguan yang Mungkin Terjadi
1. Kerekan macet
Upacara berjalan terus, setelah selesai baru dibetulkan.

2. Tali kerekan putus
Kelompok pengibar berusaha menangkap bendera yang jatuh dan merentangkan bendera tegak lurus sampai upacara selesai. Kemudian bendera dilipat sesuai ketentuan untuk disimpan.

3. Tiang bendera rebah
Kelompok pengibar berusaha menegakkan/menangkap tiang bendera. Bila tidak mungkin dipertahankan, lakukan seperti butir 2 di atas.

4. Bendera terbalik
a. Apabila pemasangan bendera ke tali sudah benar, tetapi merentangkannya salah seperti melintir atau tangan kanan memegang bendera yang berwarna putih dan tangan kiri memegang bendera yang berwarna merah maka cukup menukar pegangannya (membalik bendera).
b. Apabila pemasangan bendera ke tali sudah salah, maka petugas segera memperbaiki bendera mulai dengan melipat bendera sampai merentangkan kembali bendera.

5. Cuaca buruk atau hujan
Apabila sebelum dilaksanakan upacara cuaca buruk dan hujan maka upacara pengibaran bendera dibatalkan. Sedangkan pada saat upacara turun hujan, maka upacara dilanjutkan sampai Sang Merah Putih di puncak tiang bendera dan lagu kebangsaan selesai dinyanyikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar